Tampilkan postingan dengan label Pengajaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengajaran. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Juli 2020

Pelayanan Radio Rohani Online


Bersykur sekali, oleh kasih karunia Tuhan, pelayanan kami dipercaya untuk menjangkau melalui pelayanan radio. Radio tersebut disiarkan secara online sehingga bisa dijangkau dari mana pun juga, di seluruh Indonesia, bahkan di seluruh dunia.


            Anda bisa menikmati siaran kami yang berisi lagu-lagu pujian dan penyembahan serta penyampaian Firman Tuhan. Siaran tersebut bisa diakses melalui mizpaministry.caster.fm pada bagian kanan atas ada tulisan play, silakan klik.    









                                                        Adapun jadwal siaran radio kami susun sementara sebagai berikut   :

1.      06.00-08.00     : Siaran Lagu Indonesia Jadul  Sesi 1

2.      08.00-10.00     : Praise and Worship sesi 1

3.      10.00-11.00     : Rhema sesi 1 (Rekaman kotbah)

4.      11.00-13.00     : Praise and Worship sesi 2

5.      13.00-14.00     : Doa Syafaat

6.      14.00-16.00     : Praise and Worship sesi 3

7.      16.00-18.00     : Siaran Lagu Indonesia Jadul Sesi 2

8.      18.00-19.00     : Praise and Worship Live

9.      19.00-20.00     : Rhema sesi 2

10.  20.00-22.00     : Praise and Worship sesi 4

 

Kami berdoa pelayanan kami boleh menjadi berkat bagi anda dan orang-orang dekat anda. Mari kita hadirkan atmosfer Kerajaan Sorga di mana pun Tuhan tempatkan kita, melalui penyampaian lagu pujian dan penyembahan serta penguatan Firman Tuhan yang disuarakan oleh radio kami.

 

Adapun untuk informasi atau berbagai hal mengenai pelayanan radio online kami, bisa disampaikan melalui WA : 0895623356501 atau e-mail : themizpaministry@gmail.com

 

Solideo. Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan Yesus

 

Sabtu, 25 Juli 2020

SEMANGAT YANG MULAI HILANG, PERNAHKAH MENGALAMINYA ...

                                                                         
Ilustrasi gambar dari Google

Mazmur 42:6

Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!

Tulisan berikut ini bisa dijadikan sebagai sebuah refleksi...

Daud pernah mengalami situasi yang lemah, tak berdaya dan kehilangan semangat. Namun pada satu titik dia berkata pada dirinya sendiri “Mengapa engkau tertekan dan gelisah hai jiwaku...”. Dia mendisiplinkan jiwanya yang saat itu sedang kehilangan gairah dan semangat.

Ada beberapa faktor yang membuat seseorang bisa kehilangan gairah atau semangat mengikut Tuhan Yesus. Rasanya seperti api yang ada di dalam kita itu tidak lagi menyala dengan dengan berkobar-kobar.

 

Yang pertama, mengalami masalah atau kecewa yang bertubi-tubi. Orang yang mengalami masalah yang beruntun bisa membuat hatinya tawar saat mengikut Tuhan. Satu masalah belum selesai, ada lagi masalah yang lain. Kalau seseorang tidak ditopang dengan iman yang kuat, maka dia bisa terpuruk dan tidak lagi semangat mengikut Tuhan Yesus.

 

Yang kedua, doa yang tidak segera dijawab. Apa jadinya bila harapan yang dinantikan tidak segera datang dan doa yang dinaikkan tidak segera dikabulkan. Firman Tuhan mengatakan dalam Amsal 13:12 Harapan yang tertunda menyedihkan hati, tetapi keinginan yang terpenuhi adalah pohon kehidupan. Seseorang yang tertunda harapannya akan membuat hatinya sedih dan semangatnya jadi padam. Berdoa sekian lama tapi tidak mengalami jawaban dari Tuhan. Kalau seseorang tidak dibekali dengan pemahaman yang benar mengenai mengikut Tuhan dengan benar, maka ketika doa tidak segera dijawab menjadi lemah dan putus asa. Tidak jarang mulai cuek untuk membangun kehidupan rohani. Biasanya dalam tahap ini mulai tidak terima dengan keadaan, tapi mau menyalahkan Tuhan rasanya kok sungkan dan tidak sampai hati. Padahal mestinya hatinya protes pada Tuhan.

 

Yang ketiga, adanya kejenuhan. Orang menjadi jenuh kalau menghadapi rutinitas harian yang selalu berputar tanpa henti. Misalnya pagi bangun, masak, menyiapkan keperluan keluarga, bersih-bersih rumah, nonton tv sampai sore lalu membantu suami dan anak yang sudah pulang, makan, nonton tv lalu tidur. Demikian seterusnya. Demikian juga dengan kehidupan rohani apakah tidak berpotensi untuk jenuh, bisa jadi demikian juga. Bangun pagi, doa, baca Alkitab, datang ibadah atau aktivitas rohani lainnya. Hal rohani yang dilakukan berulang kali setiap hari bisa berpotensi menimbulkan kejenuhan. Apalagi kalau seorang hamba Tuhan, menyiapkan kotbah dan mendoakan jemaat bisa menjadi sebuah rutinitas yang menjemukan juga. Tapi bukankah kita takut dosa kalau berkata bosan berdoa, baca Alkitab dan melayani Tuhan.

Lalu apa yang bisa dilakukan, langkah berikut ini mudah-mudahan berkenan membantu...

Yang pertama, tetap isi roh kita dengan nutrisi yang sehat. Jangan berhenti memasukkan hal yang rohani baik itu Firman Tuhan, pujian dan penyembahan maupun doa. Supaya membangkitkan semangat cari chanel rohani yang menguatkan. Bisa jadi melalui televisi, internet, youtube atau bacaan rohani. Kalau banyak variasi nutrisi rohani yang kita konsumsi, maka kita akan makin dikuatkan. Saat anda mengalami masalah, akan tetap dikuatkan. Saat doa belum dijawab, akan ada pengharapan yang baru. Saat mengalami kejenuhan, akan ada penghiburan yang baik dan bermanfaat. Alkitab tetap dibaca, namun buku atau sarana nutrisi rohani lainnya sebagai selingan yang sehat. Sebagaimana kita setiap hari memang makan nasi, tapi kan tetap butuh cemilan atau makanan ringan lain untuk variasi bagi tubuh kita.

Yang kedua, mulai aktif dalam melayani Tuhan. Orang yang hanya menerima masukan rohani tapi tidak pernah menyalurkan, akan buntu pencernaan rohaninya. Sama seperti orang yang cuma makan tapi tidak pernah melakukan “pembuangan”, tentu sakit. Oleh karena itu penting sekali untuk kita melayani Tuhan, supaya otot-otot rohani kita makin kuat. Belakangan ini makin banyak sarana untuk kita melayani Tuhan. Sudah tidak lagi harus terlibat aktif di gereja, namun ada media sosial yang menjadi ladang pelayanan kita. ada grup rohani yang kita bisa menguatkan teman-teman seiman, mengirimkan artikel rohani dan berbagai penguatan lainnya. Tanpa disadari orang yang kirim postingan renungan, lagu atau video itu juga sudah melayani Tuhan. Kalau dulu yang namanya melayani Tuhan itu harus ada di gereja, sekarang sudah makin luas sarana kita untuk melayani Tuhan. Saat kita melayani Tuhan, maka kita akan terus menyala dan berkobar dan semangat mengikut Tuhan.

Yang ketiga, miliki komunitas rohani yang sehat. Sangat penting untuk kita memiliki sebuah komunitas rohani untuk menopang saat kita lemah, mendukung saat kita dalam pergumulan dan menguatkan saat kita tidak berdaya. Nah komunitas rohani itu bisa berupa persekutuan dengansaudara seiman di gereja atau Persekutuan Doa. Bisa juga melalui grup rohani baik di WA maupun Facebook yang saat ini banyak kita temui. Melalui komunitas tersebut kita bisa saling mendukung dan bahkan kalau ada yang keliru bisa ditegur dengan tujuan untuk menguatkan. Sama seperti sepotong kayu yang ditarik dari kumpulan kayu bakar, lama kelamaan kayu itu akan dingin dan tidak lagi menyalakan apinya. Demikian juga saat kita menjauh dari komunitas, maka kita akan lemah dan tidak berdaya.

 

Doa dan harapan kami, anda mulai menemukan titik balik untuk kembali semangat mengikut Tuhan Yesus. Orang yang semangat mengikut Tuhan akan kuat dan tegar menghadapi hidup ini. Pada akhirnya pesan kami “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.” (Roma 12:11). Tetap setia sampai garis akhir. Tuhan Yesus memberkati. (Dalam kasihNya, Okky Rahardjo)


Jumat, 10 Juli 2020

Pdt. Bambang Widjaja : Gereja Harus Ditopang Seribu Kaki



Pembicara kedua dalam seminar bertajuk “Kolekte Turun, Potong Gaji Hamba Tuhan Atau Efisiensi ?” yaitu Pdt. Bambang Widjaja. Beliau adalah seorang hamba Tuhan dari sinode GKPB yang juga salah satu pengurus dari Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI). Dalam seminar secara online ini beliau menyampaikan dari sudut pandang sebagai seorang hamba Tuhan yang terlibat pelayanan secara langsung.

Dalam materi yang beliau sampaikan, beliau mencoba membuat refleksi terhadap gereja-gereja Tuhan. Dari tiga kelompok gereja yang digolongkan oleh Kresnayana Yahya, yaitu gereja beraliran Pantekosta dan Kharismatik, gereja beraliran Mainstream atau gereja kelompok Evangelical. Dari ketiga kelompok gereja tersebut manakah yang mengelola keuangan secara transparan, mana yang mandiri secara keuangan, mana gereja yang menantang jemaat secara emosional dan kelompok gereja mana yang kurang mengajarkan untuk menabur.

Bambang Widjaja yang menjabat sebagai salah satu ketua PGI periode 2019-2024 ini mengatakan bahwa 80 % anggota PGI berada di daerah yang sukar, jadi belum terbiasa untuk memberi atau menabur bagi pekerjaan Tuhan. Oleh karena untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari saja dirasa kesulitan. Dalam pemaparannya, Pdt. Bambang Widjaja menyampaikan bahwa untuk ke depannya gereja perlu mengajar jemaat untuk mengelola keuangan secara sehat, bertanggung jawab dan bukan karena emosional belaka.

Gereja juga perlu sekali menyiapkan “emergency fund”, sehingga ketika terjadi masa-masa sulit seperti ini bisa antisipasi segala sesuatunya. Mengenai apakah perlu gaji seorang pendeta dipotong, beliau berpendapat tidak mudah menentukan hal tersebut. Oleh karena tidak semua gereja menggunakan sistem gaji, ada yang uangnya dikelola langsung oleh pendetanya. Kalau pun misalnya ada bagian keuangan yang harus dikurangi karena tidak banyak pemasukan bagi gereja, Pdt. Bambang Widjaja menyarankan supaya majelis gereja menurunkan pengeluaran optional saja. Gaji pendeta sebaiknya jangan dipotong, oleh karena pendeta sudah berusaha segenap hati dan tenaga untuk melayani Tuhan dalam penyampaian kebenaran Firman Tuhan. Kalau pun memang mendesak dan tidak ada pilihan lain harus mengurangi gaji pendeta, sebaiknya memotong gaji pendeta merupakan pilihan terakhir.

Pdt. Bambang Widjaja menyampaikan bahwa dalam gaya hidup seorang hamba Tuhan sebaiknya menganut dua prinsip. Prinsip tersebut yaitu kesetaraan dan pengendalian diri. Prinsip kesetaraan artinya seorang hamba Tuhan harus setara dengan jemaatnya. Beliau merujuk pada pernyataan Rasul Paulus dalam 1 Korintus 9:20 yaitu “Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi”. Hal ini dimaksudkan apabila melayani di kalangan jemaat Tuhan yang hidup dalam garis kemiskinan, tidak sepatutnya hamba Tuhan hadir dengan mobil mewah atau tampilan yang berkelas tinggi. Kita harus menyesuaikan diri dengan kehidupan orang-orang yang kita layani.

Sebaliknya, kalau melayani di kalangan konglomerat, apakah seorang hamba Tuhan juga harus memiliki gaya hidup seperti konglomerat. Pdt. Bambang Widjaja menyampaikan ada prinsip pengendalian diri. Sebagaimana Firman Tuhan yang mengatakan “asal ada makanan dan pakaian cukuplah”, maka hamba Tuhan pun sebaiknya mengendalikan diri untuk tidak bergaya hidup mewah.

Menutup penyampaian materi, Pdt. Bambang Widjaja menyimpulkan bahwa ada tiga prioritas yang harus dilakukan hamba Tuhan ketika gereja menghadapi problem keuangan.

1.      Codependent artinya jangan bergantung pada pihak lain termasuk pemerintah dengan mengharapkan bantuan, dsb. Tetaplah berharap pada Tuhan.
2.      Transparansi keuangan, berapa pemasukan dan pengeluaran harus terbuka di hadapan jemaat.
3.      Jangan membangun meja hanya berdasarkan 1, 2, atau 3 kaki. Lebih baik kaki 1000 daripada kaki 3. Oleh karena meja yang hanya ditopang 3 kaki akan mudah jatuh dibandingkan kalau ada 1000 kaki yang menopang. Gereja jangan hanya mengandalkan keuangan pada 2-3 orang kaya lalu mengabaikan orang-orang yang sederhana. Namun bila ditopang oleh orang banyak, maka gereja akan aman secara keuangan.

Demikian ringkasan dari pemaparan yang disampaikan oleh bpk. Pdt. Bambang Widjaja  dalam seminar yang dilaksanakan secara online. Kiranya apa yang boleh kami sampaikan sebagai ringkasan boleh menjadi berkat bagi kita semua. Tetap setia sampai garis akhir. Tuhan Yesus memberkati.

Rabu, 08 Juli 2020

Kresnayana Yahya : Gereja Jangan Mengandalkan pada 2-3 Boss...



Kresnayana Yahya saat menyampaikan materi
Semalam Bilangan Research Center (BRC) mengadakan seminar online via zoom. Seminar ini menghadirkan dua pembicara terkenal, salah satunya yaitu bpk. Drs. Kresnayana Yahya, M. Sc. Beliau seorang ahli Statistik dan Analisa Bisnis yang dalam lembaga BRC ini menjabat sebagai Ketua Pengawas. Beliau menyampaikan materi pada sesi pertama, sementara pembicara berikutnya yang menyampaikan materi pada sesi kedua akan kami tampilkan juga secara berseri di tulisan kami selanjutnya.

Topik yang diperbincangkan cukup menarik, yaitu “Kolekte Turun, Potong Gaji Hamba Tuhan Atau Efisiensi?”. Sebuah tema pembicaraan yang bagi sebagian kalangan Kristen cukup tabu karena menyangkut keuangan gereja yang seringkali cukup disingkapi dengan “jalan dengan iman saja”, tanpa perlu dibicarakan secara mendetil.

Kresnayana Yahya menyampaikan dalam materi awalnya bahwa pada triwulan pertama, ekonomi kita masih membaik yaitu adanya pertumbuhan 3%. Namun mulai April, ekonomi mulai menurun. Hal ini disebabkan beberapa faktor yaitu ada banyak lulusan baru tahun ini yang mencari kerja, investasi baru yang masih berproses dan daya beli yang makin menurun.

Sementara itu hasil dari pengamatan beliau ditemukan bahwa pendapatan gereja menurun hingga 34 %, hal ini dikarenakan tidak adanya perjumpaan di gereja. Dampak tersebut dirasakan sangat besar yang pertama oleh gereja dari golongan Pantekota dan Kharismatik. Dampak berikutnya dialami oleh gereja aliran Mainstream. Yang urutan berikutnya dihadapi oleh gereja aliran Evangelical.

Pengamatan yang beliau lakukan terhadap ibadah online sebagai berikut. Gereja dengan jumlah jemaat 1-50 orang, yang melakukan ibadah online diperoleh angka 64,7%. Sedangkan gereja dengan jumlah anggota jemaat lebih dari 500 orang mampu melaksanakan ibadah secara online sebanyak 100 %.

Gereja yang siap dalam menghadapi masa-masa pandemi seperti ini biasanya membuat tim yang menangani program gereja secara digital atau multimedia. Hal ini diwujudkan dengan penggunaan teknologi untuk penyaluran persembahan, bisa melalui transfer, scan QR, Ovo dan berbagai sarana lainnya. Namun ada juga jemaat yang memilih menggunakan sarana pengumpulan uang, karena gerejanya juga belum siap secara teknologi. Jadi uang kolekte dikumpulkan dulu sedikit demi sedikit, karena kalau langsung diserahkan setiap minggu nominalnya terlalu sedikit. Kelemahannya, seringkali uang yang sudah disiapkan itu belum sampai dikumpulkan sudah habis terpakai dulu untuk konsumsi sehari-hari.

Dalam menghadapi situasi yang makin berkembang ini, Kresnayana Yahya berpesan bahwa sebaiknya gereja membangun organisasi yang cocok dengan jaman ini. Organisasi gereja harus fleksibel dan jangan terlalu birokratis sehingga sulit untuk menentukan keputusan termasuk dalam hal penggunaan keuangan. Dia juga menyampaikan supaya gereja jangan mengandalkan pada 2-3 boss. Gereja harus bisa membangun kebersamaan untuk menghidupi ekonomi Gereja.

Demikian ringkasan dari pemaparan yang disampaikan oleh bpk. Kresnayana Yahya dalam seminar yang dimulai pkl. 18.30-21.00 WIB. Adapun pembicara berikutnya akan kami sampaikan dalam tulisan kami yang akan datang. Terima kasih atas perhatiannya. Tuhan Yesus memberkati.

KESAKSIAN PELAYANAN

Jumpa Dengan Tuhan Edisi 09 November 2023 "Kuat Di Dalam Tuhan"

  JUMPA DENGAN TUHAN Judul     : Kuat Di Dalam Tuhan Baca     : Efesus 6:10 Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kek...